Apa Itu Stunting :

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada anak balita (bawah lima tahun) akibat kekurangan asupan nutrisi atau malnutrisi dalam waktu cukup lama. Penyebabnya adalah makanan yang ia konsumsi tidak memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai usia si anak. Pada umumnya, stunting terjadi pada balita, khususnya usia 1-3 tahun. 

BERITA TERKAIT

KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU BAGI TENAGA KESEHATAN

KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU BAGI TENAGA KESEHATAN

Upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat bukan merupakan proses yang mudah. Sehubungan dengan itu petugas kesehatan dalam hal ini petugas promosi kesehatan, sanitarian dan nutrisionis puskesmas harus mempunyai kompetensi yang...

ISI PIRINGKU

ISI PIRINGKU

Dalam rangka pencegahan dan penurunan Stunting Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga melakukan Edukasi kepada masyarakat melalui media Radio LPPL Gema Soedirman secara reguler setiap hari Rabu selama 1 jam mulai pukul 8 pagi sampai jam 9 pagi. Salah satu tema...

PUBLIKASI

REGULASI

PERENCANAAN

LAPORAN

RISET

SITUASI GIZI DI INDONESIA

%

Stunting Balita (SSGBI,2019)

%

Wasting Balita (SSGBI,2019)

%

Underweight Balita (Riskesdas,2018)

%

Bayi dengan BBLR (Riskesdas,2018)

%

ASI Eksklusif (Riskesdas,2018)

%

Anemia Ibu Hamil (Riskesdas,2018)

CEGAH STUNTING ITU PENTING

Kenali Stunting Sejak Dini

Permasalahan stunting kini tidak bisa dianggap remeh. Nyatanya, stunting menjadi permasalahan skala nasional, terjadi di hampir penjuru Indonesia. Namun begitu, ada baiknya kita mengenal apa itu stunting terlebih dahulu.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar (PB/U atau TB/U). Tinggi badan hanya penunjuk fisik, namun dampak lain yang tak kalah mengkhawatirkan dari stunting adalah hambatan perkembangan kognitif dan motorik serta gangguan metabolik pada saat dewasa yang meningkatkan risiko penyakit tidak menular.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting (27,67% berdasarkan SSGBI 2019). Oleh karena itu, sampai saat ini isu stunting menjadi prioritas nasional sehingga Presiden menargetkan angka stunting turun menjadi 14% di tahun 2024.

(Sumber : https://cegahstunting.id/berita/kenali-stunting-sejak-dini/)

Bahaya Stunting dalam Siklus Kehidupan

Kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama, menyebabkan seseorang rentan menjadi penderita stunting. Stunting ini berbahaya dalam siklus kehidupan. Hal ini dikarenakan Kekurangan gizi yang berlangsung lama sejak anak usia dini menyebabkan organ tubuh tidak tumbuh dan berkembang secara optimal. Balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15 persen) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta Disability-Adjusted Life Years (DALYs) yaitu hilangnya masa hidup sehat setiap tahun (Ricardo dalam Bhutta, 2013).

Kualitas gizi anak dipengaruhi oleh kualitas gizi ibunya. Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil akan meningkatkan risiko kematian ibu, kematian bayi, dan menimbulkan masalah gizi antara generasi (transgenerational malnutrition). Anemia pada ibu hamil telah menjadi penyebab utama kematian ibu, dimana sebesar 23 persen kematian ibu disebabkan oleh anemia. Ibu yang mengalami kekurangan gizi (kurus) selain menimbulkan KEK juga dapat mengakibatkan melahirkan bayi yang pendek dan atau berat bayi lahir rendah.

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah mempunyai risiko lebih tinggi mengalami hambatan pertumbuhan lebih lanjut, baik yang diakibatkan oleh efek sisa (retained effect) gangguan pertumbuhan di dalam kandungan maupun gangguan pertumbuhan pasca lahir. Anak tersebut selanjutnya berisiko tumbuh menjadi remaja pendek dan apabila hamil pada saat dewasa maka janinnya berisiko lebih tinggi untuk mengalami hambatan pertumbuhan. Dengan demikian, masalah gangguan pertumbuhan sudah dimulai sejak remaja.

Dengan berbagai dampak seperti ini, sudah saatnya kita bersama-sama mencegah stunting. (Sumber : https://cegahstunting.id/berita/bahaya-stunting-dalam-siklus-kehidupan/ )

Kiat Penuhi Asupan Gizi Agar Stunting Bisa Teratasi

Penyebab utama stunting adalah rendahnya asupan gizi yang baik serta penyakit infeksi. Apabila asupan gizi terpenuhi—serta sanitasi yang bersih dan ketersediaan air yang mencukupi—maka pada umumnya seorang anak dapat terbebas dari stunting. Ada beberapa kita memenuhi asupan gizi agar stunting bisa teratasi.

Pada ibu hamil, dianjurkan untuk makan 1 ½ – 2 kali lebih banyak dari biasanya karena pada saat kehamilan diperlukan tambahan energi dan zat gizi lainnya untuk kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin. Sementara pada bayi, asupan gizi yang tepat adalah dengan memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif tanpa tambahan apapun sejak usia 0-6 bulan, memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang cukup kuantitas dan kualitas gizinya pada saat bayi sudah berusia 6 bulan, dan melanjutkan pemberian ASI sampai usia 2 tahun atau lebih.

Tidak lupa juga, pengawasan kesehatan ibu dan anak secara teratur ke posyandu atau puskesmas dapat membantu Ibu untuk memenuhi dan mengawasi asupan gizi. Perencanaan pemenuhan gizi harus dimulai sedini mungkin. (sumber https://cegahstunting.id/berita/kiat-penuhi-asupan-gizi-agar-stunting-bisa-teratasi/)

Seberapa Penting Sanitasi Dalam Mencegah Stunting

Sudah hal umum bahwa stunting begitu erat kaitannya dengan infeksi berulang.                 Infeksi berulang yang terjadi dalam waktu cukup lama bisa menjadi faktor pemicu terjadinya stunting. Kejadian infeksi sangat terkait dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat, seperti tidak tersedianya akses air bersih, sarana sanitasi layak, dan pengelolaan sampah. Dengan demikian, penyediaan air bersih dan sanitasi memiliki peran penting dalam penurunan stunting karena berhubungan erat dengan upaya pencegahan infeksi penyakit.

Upaya untuk menyediakan sarana air bersih dan sanitasi baik di pedesaan maupun di perkotaan dilakukan antara lain melalui program Penyediaan Air minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS) terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Intervensi lain yang dilakukan juga mencakup penyediaan infrasturuktur air limbah berbasis masyarakat dan tempat pengelolaan sampah terpadu. Selain penyediaan sarana, pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat seperti cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, buang air besar di tempatnya, dan mengelola sampah dengan benar. (Sumber : https://cegahstunting.id/berita/seberapa-penting-sanitasi-dalam-mencegah-stunting/)